TSUNAMI
Aku dan Sutijah tak berhenti-hentinya
bertengkar,pertengkaran dimulai karena sebab yang sangat sepele namun Inilah
watak seorang istriku yang tak mau kalah.Katanya setiap perkataan ia harus
menang dariku.Aku pun selalu menuruti keinginannya,namun tidak untuk kali ini.
Sutijah melemparku dengan bantal kemudia
piring ia pecahkan dan di jadikannya sebuah irama,setelah itu ia melemparku
dengan jam dinding,Aku adalah lelaki kuat yang takkan menyerah.Dia tak mau kalah
aku pun tak mau kalah.
Namun aku bukan lelaki biadab yang
meladeni istri yang sedang mengamuk
dengan mengamuk pula,kalau istriku terus memukul ku dengan setiap benda di
rumah maka aku hanya bisa tersenyum dan membalasnya dengan pujian kalau ia
adalah wanita tercantik di seluruh negeri Aceh ini.
Sutijah adalah wanita keras,kerap kali Dio
anakku yang terakhir di pukulnya dengan sapu .Ia sering menjewer karena
sifatnya yang memang sembrono namun
kenapa harus dengan kekerasan ,aku tak bisa menasehatinya,ia bukan
seorang yang penurut pada sang suami .
Beruntung anak pertamaku tidak di Aceh
dan yang terpenting sangat jauh dengan Sutijah,Melinda sengaja ku masukkan ke
pesantren di Jawa supaya terhindar dari perlakuan kasar ibunya.Jarak Jawa dan
Aceh mungkin akan menyelamatkan Melinda dari sifat brutal sang istri.
Malam itu sutijah meributkan masalah
gaji PNS ku yang menurun,katanya ia tak bisa lagi berbelanja di supermarket
gara-gara gaji ku yang menurun dan tak cukup untuk memenuhi nafsu barang nya.Sutijah sendiri adalah orang yang
gampang percaya akan trend-trend yang marak di lingkungan ,misalnya saja saat
sedang musimnya celan pensil,ia langsung mengambil uang gajiku demi celana
pensil.Padahal uang itu untuk biaya spp Dio yang nunggak dua bulan .
Sifat Sutijah ku jadiakan
sebuah keunikan dan kekhasan yang harus
aku ladeni.
Malam itu juga Sutijah memintaku
memanjat pohon kelapa,ia meminta petikkan kelapa yang hijau-hijau,padahal aku
sudah menyarankannya untuk beli saja ,namun begitulah sifat kerasnya dan egonya
yang tinggi hingga mau tak mau aku harus memanjat pohon kelapa yang tinggi di
malam hari yang dingin.
Setelah ia dapatkan kelapa itu ia malah
membuangnya katanya ia sedang menguji ketulusan cinta ku yang terdalam .aku pun
tetap mencintainya walaupun sifatnya yang tak aku cintai namun wajahnya aku
cintai begitu lah jawaban .
Pagi harinya sutijah agak kebinggungan
,dari tadi ia terus saja memandang lautan ,padahal di lautan tak ada apa-apa
selain nelayan yang sedang berlayar.Katanya ia meilhat darah di lautan
tersebut.Aku pun yakin kalau ia sedang berhalusinasi.
Ia masih saja melamun ,ku suguhkan
secangkir kopi ia malah melamun ,ia terus berkata kalau aku harus bersenbunyi
di dalam almari.Aku tak paham apa yang di katakan oleh Sutijah.Setelah ia sadar
dari lamunannya ia cepat-cepat pamit mau
pergi namun yang ia katakan adalah bahwa ia akan segera pergi ke akhirat
bersama Dio.Berkali-kali aku menanyakan keadaannya ,ia hanya berkata minta maaf
kepadaku. Tak seperti biasanya seorang Sutijah
bisa berkata maaf dengan ku dan dengan wajah yang ikhlas,aku menganggap hal ini
sebagai mujizat yang kebetulan datang menghampiriku.
Setelah Sutijah jauh dari pandangan ku
tiba-tiba ponsel ku berbunyi ,terlihat Melinda memanggil,setelah aku angkat ia
berkata kalau aku harus berhati-hati akan peristiwa yang akan terjadi katanya
tadi malam ia bermimpi banyak ikan yang mati di lautan.Ia pun berpesan kepada
ku untuk menuruti perintah Sutijah agar aku bersembunyi di almari baju.Terakhir
kalinya ia menitipkan salam kepada Dio dan Sutijah ,salamnya pun rada aneh
yaitu salam perpisahan.
Aku sendiri termangu sendiri di dalam
kamar,kulihat almari baju yang sudah tidak ada isinya.Sengaja aku keluarkan
baju-baju yang ada didalam demi menuruti perintah Sutijah yang kalau perintahnya
tidak di penuhi maka ia akan mengamuk seperti biasanya.
Setelahku keluarkan baju-bajuku aku pun
masuk ke dalam almari tersebut dan menguncinya rapat-rapat,didalam almari aku
terus berkata apakah aku sedang gila hingga menurui sang istri yang rada aneh.
Keanehan itu bukanlah aneh melainkan
kenyataan.Di dalam almari sendiri ku dengar suara gemuruh air yang dahsyat.Aku
pun ketakutan .Didalam benakku aku berkata apakah ini sebuah peristiwa besar
yang di maksudkan Melinda dan Sutijah.Benakku terus saja berkata-kata .
Dan ternyata benar apa yang dikatakan
oleh semuanya kalau hari ini tepatnya di tanggal dua puluh enam desember terjadi tsunami yang sangat besar.
Didalam almari aku terus berdoa,apakah
aku akan selamat atau aku akan menyusul Sutijah yang katanya ia akan pergi ke
akhirat bersama Dio .Iringan doa tak henti-hentinya kuucapkan dalam mulut
keclilku.
Almari yang aku tumpangi seperti
berlayar sangat jauh.Rasanya aku tengah berada di tengah lautan buatan di depan
rumah ku,bebrapa kali almari ini menabrak benda-benda kasar.Aku pun terkadang
kualahan jika air masuk kedalam almari.
Kemudian almari yang aku tumpangi pecah
sedikit.Aku berusaha sekuat tenaga untuk menahannya dari gelombang besar.Dan
ini membuat keringatku tak berhenti-hentinya mengucur bersama air mata .
Berkali-kali aku mengutuk laut,sebutan
laut yang kasar ,laut seperti babi dan laut seperti monster yang tak punya
belas kasih .Kata-kata itu menghiasi setiap mulutku.
Sekarang almari ku berhenti entah dimana.Yang
kudengar diluar sana adalah tangisan seorang anak yang di tinggal sang ibu.Anak
itu menangis dan meminta ibunya untuk memeluknya.Dan sang ibu pun memeluk sang
anak dengan lembutnya setelah itu suara itu menghilang jauh diterpa ombak yang
besar.
Aku hanya bisa mendengar dan meminum
air kencing sendiri selama kurang lebih
tiga hari lamanya.
Setelah aku coba bangkit kulihat ada
sebuah kapal yang besar membawaku ke atas.Dan seperti ada malaikat yang sedang
menolong nyawaku.Malaikat itu ternyata adalah Tim Sar yang sedang mencari
korban selamat.
Aku pun selamat ,ternyata
bencana ini membawa ku ke tengah dasar lautan.
Acap
kali ku ucapkan puji syukur ke hadirat Allah SWT dengan segala nikmat dan
hidayah Nya aku dapat menghirup udar keindahan dunia yang telah mengijinkan aku
agar tetap hidup dan mengasuh Melinda .
Di daratan Aceh kutemukan beberapa mayat yang berlimpangan .Ratusan bahkan
ribuan.Pohon-pohon yang tumbang dan rumah yang rata dengan tanah.
Kulihat daerah rumah ku yang sudah
tidak ada,aku pun menghapiri dapur rumahku yang sekarang adalah tanah.Kenangan
indah bersama Sutijah.
Para Tim Sar sangat sibuk mengurusi data-data
mayat yang sudah mati .Aku pun menghamprinya dan menanyakan apakah Sutijah dan
Dio masih hidup.Namun dari data tersebut
tak di temukan mayat yang bernama Sutijah dan Dio.
Langkah ku kesana-kemari mencari seseorang
yang bertubuh besar dan ada tahi lalat di bibirnya serta anak kecil yang bibirnya
agak dower,dan di matanya di temukan tahi lalat yang agak sama dengan ibunya.
Hilir mudik para sukarelawan tak ku
hiraukan .Mereka hanya sebuah benda mati yang sama dengan mayat, aku sendiri
tak tahu kalau mereka semua masih hidup karena memang aku sedang berduka dan
stress.
Saat itu Sutijah pergi kepasar dengan
membawa Dio sesampainya di rumah Dio tak ada katanya Dio main kerumah nenek
nya.Tapi setelah aku kerumah nenek ternyata Dio tidak berada disana.Aku sangat
khawatir waktu itu namun ternyata Dio ada di kamar sedang tertidur bersama
Sutijah.Kulihat kasih sayang seorang ibu yang kadang kala marah karena anaknya
yangsangat nakal.Hal ini aku jadikan pelajaran bahwa Sutijah tak selamanya
kasar.Ia masih memiliki jiwa seorang ibu yang sangat mengasihi anaknya.
Kenangan itu buyar saat aku menemukan
sosok yang tak asing lagi bagiku,mayat itu berada di pesisir laut.Mayat itu
sedang memeluk seorang anak kecil yang di matanya terdapat tahi lalat.Segera
kuhampiri kedua mayat tersebut .
Wanita itu dengan lembut kasih memeluk
anak kecil ,pakainanya sangat rapuh dan di lumpuri pasir putih .Wajah kepanikan
seorang ibu kepada anaknya.Mayat itu terasa sangat dekat dengan ku.Mayat itu
pun segera aku dekati begitu aku dekat dengan wajahnya ,tak salah lagi dia
adalah Sutijah dan anak kecil yang sedang di peluknya adalah Dio.
Kucium kening Sutijah penuh kasih juga
Dio tak begitu lama muncul di belakang ku sosok yang menghampiriku dengan kerudungnya yang
putih,dia juga adalah bagian dari hidupku.Melinda datang untuk menghiburku
,ternyata ia punya firasat buruk hingga ia jauh-jauh datang dari Jawa demi
bertemu ibu dan adik yang sudah tidak bernyawa lagi.
Melinda ku peluk sangat
erat,ia tak henti-hentinya menangis.
Pemalang,24 juni 2011
Nama pena:Musa Hasyim
Aktif di kopi
sareng(komunitas sastra tebuireng)bareng mbak lan fang.
Diterbitkan di majalah Nahdhatul Lughoh
Tidak ada komentar:
Posting Komentar