Sabtu, 18 Januari 2014

Cerpen Tsunami



                                                        TSUNAMI
       Aku dan Sutijah tak berhenti-hentinya bertengkar,pertengkaran dimulai karena sebab yang sangat sepele namun Inilah watak seorang istriku yang tak mau kalah.Katanya setiap perkataan ia harus menang dariku.Aku pun selalu menuruti keinginannya,namun tidak untuk kali ini.
       Sutijah melemparku dengan bantal kemudia piring ia pecahkan dan di jadikannya sebuah irama,setelah itu ia melemparku dengan jam dinding,Aku adalah lelaki kuat yang takkan menyerah.Dia tak mau kalah aku pun tak mau kalah.
      Namun aku bukan lelaki biadab yang meladeni istri yang  sedang mengamuk dengan mengamuk pula,kalau istriku terus memukul ku dengan setiap benda di rumah maka aku hanya bisa tersenyum dan membalasnya dengan pujian kalau ia adalah wanita tercantik di seluruh negeri Aceh ini.
       Sutijah adalah wanita keras,kerap kali Dio anakku yang terakhir di pukulnya dengan sapu .Ia sering menjewer karena sifatnya yang memang sembrono namun  kenapa harus dengan kekerasan ,aku tak bisa menasehatinya,ia bukan seorang yang penurut pada sang suami .
      Beruntung anak pertamaku tidak di Aceh dan yang terpenting sangat jauh dengan Sutijah,Melinda sengaja ku masukkan ke pesantren di Jawa supaya terhindar dari perlakuan kasar ibunya.Jarak Jawa dan Aceh mungkin akan menyelamatkan Melinda dari sifat brutal sang istri.
        Malam itu sutijah meributkan masalah gaji PNS ku yang menurun,katanya ia tak bisa lagi berbelanja di supermarket gara-gara gaji ku yang menurun dan tak cukup untuk memenuhi nafsu  barang nya.Sutijah sendiri adalah orang yang gampang percaya akan trend-trend yang marak di lingkungan ,misalnya saja saat sedang musimnya celan pensil,ia langsung mengambil uang gajiku demi celana pensil.Padahal uang itu untuk biaya spp Dio yang nunggak dua bulan .
Sifat Sutijah ku jadiakan sebuah keunikan dan kekhasan  yang harus aku ladeni.
       Malam itu juga Sutijah memintaku memanjat pohon kelapa,ia meminta petikkan kelapa yang hijau-hijau,padahal aku sudah menyarankannya untuk beli saja ,namun begitulah sifat kerasnya dan egonya yang tinggi hingga mau tak mau aku harus memanjat pohon kelapa yang tinggi di malam hari yang dingin.
        Setelah ia dapatkan kelapa itu ia malah membuangnya katanya ia sedang menguji ketulusan cinta ku yang terdalam .aku pun tetap mencintainya walaupun sifatnya yang tak aku cintai namun wajahnya aku cintai begitu lah jawaban .
       Pagi harinya sutijah agak kebinggungan ,dari tadi ia terus saja memandang lautan ,padahal di lautan tak ada apa-apa selain nelayan yang sedang berlayar.Katanya ia meilhat darah di lautan tersebut.Aku pun yakin kalau ia sedang berhalusinasi.
        Ia masih saja melamun ,ku suguhkan secangkir kopi ia malah melamun ,ia terus berkata kalau aku harus bersenbunyi di dalam almari.Aku tak paham apa yang di katakan oleh Sutijah.Setelah ia sadar dari lamunannya ia  cepat-cepat pamit mau pergi namun yang ia katakan adalah bahwa ia akan segera pergi ke akhirat bersama Dio.Berkali-kali aku menanyakan keadaannya ,ia hanya berkata minta maaf kepadaku.  Tak seperti biasanya seorang Sutijah bisa berkata maaf dengan ku dan dengan wajah yang ikhlas,aku menganggap hal ini sebagai mujizat yang kebetulan datang menghampiriku.
       Setelah Sutijah jauh dari pandangan ku tiba-tiba ponsel ku berbunyi ,terlihat Melinda memanggil,setelah aku angkat ia berkata kalau aku harus berhati-hati akan peristiwa yang akan terjadi katanya tadi malam ia bermimpi banyak ikan yang mati di lautan.Ia pun berpesan kepada ku untuk menuruti perintah Sutijah agar aku bersembunyi di almari baju.Terakhir kalinya ia menitipkan salam kepada Dio dan Sutijah ,salamnya pun rada aneh yaitu salam perpisahan.
        Aku sendiri termangu sendiri di dalam kamar,kulihat almari baju yang sudah tidak ada isinya.Sengaja aku keluarkan baju-baju yang ada didalam demi menuruti perintah Sutijah yang kalau perintahnya tidak di penuhi maka ia akan mengamuk seperti biasanya.
       Setelahku keluarkan baju-bajuku aku pun masuk ke dalam almari tersebut dan menguncinya rapat-rapat,didalam almari aku terus berkata apakah aku sedang gila hingga menurui sang istri yang rada aneh.
        Keanehan itu bukanlah aneh melainkan kenyataan.Di dalam almari sendiri ku dengar suara gemuruh air yang dahsyat.Aku pun ketakutan .Didalam benakku aku berkata apakah ini sebuah peristiwa besar yang di maksudkan Melinda dan Sutijah.Benakku terus saja berkata-kata .
        Dan ternyata benar apa yang dikatakan oleh semuanya kalau hari ini tepatnya di tanggal dua puluh enam desember  terjadi tsunami yang sangat besar.
        Didalam almari aku terus berdoa,apakah aku akan selamat atau aku akan menyusul Sutijah yang katanya ia akan pergi ke akhirat bersama Dio .Iringan doa tak henti-hentinya kuucapkan dalam mulut keclilku.
        Almari yang aku tumpangi seperti berlayar sangat jauh.Rasanya aku tengah berada di tengah lautan buatan di depan rumah ku,bebrapa kali almari ini menabrak benda-benda kasar.Aku pun terkadang kualahan jika air masuk kedalam almari.
        Kemudian almari yang aku tumpangi pecah sedikit.Aku berusaha sekuat tenaga untuk menahannya dari gelombang besar.Dan ini membuat keringatku tak berhenti-hentinya mengucur bersama air mata .
        Berkali-kali aku mengutuk laut,sebutan laut yang kasar ,laut seperti babi dan laut seperti monster yang tak punya belas kasih .Kata-kata itu menghiasi setiap mulutku.
        Sekarang almari ku berhenti entah dimana.Yang kudengar diluar sana adalah tangisan seorang anak yang di tinggal sang ibu.Anak itu menangis dan meminta ibunya untuk memeluknya.Dan sang ibu pun memeluk sang anak dengan lembutnya setelah itu suara itu menghilang jauh diterpa ombak yang besar.
        Aku hanya bisa mendengar dan meminum air kencing sendiri selama kurang lebih  tiga hari lamanya.
        Setelah aku coba bangkit kulihat ada sebuah kapal yang besar membawaku ke atas.Dan seperti ada malaikat yang sedang menolong nyawaku.Malaikat itu ternyata adalah Tim Sar yang sedang mencari korban selamat.
Aku pun selamat ,ternyata bencana ini membawa ku ke tengah dasar lautan.
        Acap kali ku ucapkan puji syukur ke hadirat Allah SWT dengan segala nikmat dan hidayah Nya aku dapat menghirup udar keindahan dunia yang telah mengijinkan aku agar tetap hidup dan mengasuh Melinda .
       Di daratan Aceh kutemukan beberapa  mayat yang berlimpangan .Ratusan bahkan ribuan.Pohon-pohon yang tumbang dan rumah yang rata dengan tanah.
        Kulihat daerah rumah ku yang sudah tidak ada,aku pun menghapiri dapur rumahku yang sekarang adalah tanah.Kenangan indah bersama Sutijah.
        Para Tim Sar sangat sibuk mengurusi data-data mayat yang sudah mati .Aku pun menghamprinya dan menanyakan apakah Sutijah dan Dio masih hidup.Namun  dari data tersebut tak di temukan mayat yang bernama Sutijah dan Dio.
        Langkah ku kesana-kemari mencari seseorang yang bertubuh besar dan ada tahi lalat di bibirnya serta anak kecil yang bibirnya agak dower,dan di matanya di temukan tahi lalat yang agak sama dengan ibunya.
        Hilir mudik para sukarelawan tak ku hiraukan .Mereka hanya sebuah benda mati yang sama dengan mayat, aku sendiri tak tahu kalau mereka semua masih hidup karena memang aku sedang berduka dan stress.
        Saat itu Sutijah pergi kepasar dengan membawa Dio sesampainya di rumah Dio tak ada katanya Dio main kerumah nenek nya.Tapi setelah aku kerumah nenek ternyata Dio tidak berada disana.Aku sangat khawatir waktu itu namun ternyata Dio ada di kamar sedang tertidur bersama Sutijah.Kulihat kasih sayang seorang ibu yang kadang kala marah karena anaknya yangsangat nakal.Hal ini aku jadikan pelajaran bahwa Sutijah tak selamanya kasar.Ia masih memiliki jiwa seorang ibu yang sangat mengasihi anaknya.
        Kenangan itu buyar saat aku menemukan sosok yang tak asing lagi bagiku,mayat itu berada di pesisir laut.Mayat itu sedang memeluk seorang anak kecil yang di matanya terdapat tahi lalat.Segera kuhampiri kedua mayat tersebut .
        Wanita itu dengan lembut kasih memeluk anak kecil ,pakainanya sangat rapuh dan di lumpuri pasir putih .Wajah kepanikan seorang ibu kepada anaknya.Mayat itu terasa sangat dekat dengan ku.Mayat itu pun segera aku dekati begitu aku dekat dengan wajahnya ,tak salah lagi dia adalah Sutijah dan anak kecil yang sedang di peluknya adalah Dio.
       Kucium kening Sutijah penuh kasih juga Dio tak begitu lama muncul di belakang ku sosok  yang menghampiriku dengan kerudungnya yang putih,dia juga adalah bagian dari hidupku.Melinda datang untuk menghiburku ,ternyata ia punya firasat buruk hingga ia jauh-jauh datang dari Jawa demi bertemu ibu dan adik yang sudah tidak bernyawa lagi.
Melinda ku peluk sangat erat,ia tak henti-hentinya menangis.

Pemalang,24 juni 2011
Nama pena:Musa Hasyim
Aktif di kopi sareng(komunitas sastra tebuireng)bareng mbak lan fang.

 Diterbitkan di majalah Nahdhatul Lughoh

Tidak ada komentar:

Posting Komentar