Suara Keras
Malam itu ketika hujan turun dengan beberapa petir menyertainya.
Aku begitu ketakutan hingga memilih pindah ke kamar mama. Mama tahu kalau aku
adalah anak kecil yang sangat tidak suka dengan kebisingan. Mendengar petasan
saja aku harus menutup telinga dengan dua bantal apalagi suara petir yang
sangat menggelegar.
“Farhan! Kau harus seperti ayahmu. Ia kuat mendengar suara sekeras
apapun. Bahkan suara bompun ayahmu masih kuat mendengarnya.” ujar mama
menjelaskan perihal ayah yang tidak ku tahu batang hidungnya sampai umurku beranjak
sepuluh tahun. Dari peristiwa malam itu aku mulai belajar mendengarkan suara
keras. Mama mulai sering membelikanku balon lalu meletuskan balon tersebut.
Berkali-kali mama lakukan demi melatih pendengaranku.
Ketika liburan sekolah tiba, mama mengajakku ke tempat yang penuh
dengan keramaian. Tak hanya di pasar atau tempat ramai perbelanjaan lainnya.
Mama juga pernah mengajakku menonton pertandingan sepak bola di stadiun bola gelora
bung karno, alasannya hanya untuk melatih pendengaranku. Tentunya di stadiun
bola tersebut gemuruh suara suporter sangatlah keras ditambah lagi suara
terompet.
Yang tadinya aku tidak terlalu kuat mendengar suara yang keras,
kini aku mulai bisa dan terlatih untuk mendengar. Bahkan aku sudah mulai terbiasa
mendengarkan volume televisi dengan volume paling tinggi sekalipun.
***
Setiap hari aku mempraktekkan di sekolah. Tukang penjual balon langgananku
tahu kalau aku suka memborong habis balon miliknya yang kemudian aku letuskan
di kelas. Walaupun mama harus menanggung akibatnya karena aku sendiri sering di
hukum lantaran menggangu teman-teman sekelas dengan meletuskan balon-balon yang
aku beli. Mama sering mendapatkan surat teguran bahkan beberapa panggilan dari
kepala sekolah di sekolahku. Tapi anehnya mama tidak memarahiku dan tidak kapok
melatihku untuk belajar mendengarkan suara yang keras. Terutama suara letusan
balon. Setiap kali mama dipanggil kepala sekolah, mama malah memberiku sebuah
permen dan senyuman. Menurut mama aku sudah cukup pandai mendengarkan suara
yang keras. Hal tersebut terbukti ketika ada suara ledakan ban yang besar
karena kecelakaan di depan sekolah. Di saat semua teman-temanku berlarian dan
menutup telinga, hanya aku sendiri yang tidak takut dan tidak pula menutup
telinga begitu juga dengan mamaku.
Sebenarnya aku masih bingung dengan pekerjaan ayah. Yang kata mama,
ayah adalah tukang balon dan tahan dengan suara keras. Tapi berkali-kali aku
tanyakan ke mama, apakah pekerjaan ayah mulia seperti guru, mama hanya diam dan
tersenyum tanpa membalas apapun. Kata mama suatu saat nanti aku akan kuat
mendengarkan suara keras layaknya ayah. Tapi kenapa juga aku harus meneruskan
tingkah lakunya.
Memang suara yang paling mama sukai adalah letusan suara balon.
Setiap malam saja mama selalu meletuskan satu balon dan kami mendengarkan
bersama layaknya mendengarkan musik rock.
“Ma! kenapa mama suka dengan suara letusan balon?” tanyaku waktu
itu.
“Ayahmu tukang balon dan suara letusan balon itu merdu, semerdu
suara angin di dalamnya.”
Berkali-kali aku tanyakan apakah benar ayah tukang balon yang mulia
dan tahan suara keras. Hingga rasa penasaran ini memuncak dan akupun meneliti
seisi kamar mama. Di setiap dinding kamar itu terpampang beberapa foto balon.
Dari yang warna biru,kuning, dan merah. Namun dari sekian foto tak kujumpai
satupun foto laki-laki penjual balon. Apakah benar ayahku tukang balon.
Tak hanya suara balon yang mama ajarkan kepadaku tapi juga suara
petasan. Mama juga pernah menjelaskan kalau selain tukang balon, ayah juga
tukang petasan yang selalu mendengarkan suara keras dari petasan miliknya.
Petasan pun mulai menggantikan posisi suara balon. Sudah jarang aku
mendegarkan suara letusan balon di kamar mama. Suara petasan tentunya lebih
keras ketimbang suara balon. Hingga di sekolahpun aku beralih dari membeli dan
memborong balon ke petasan. Kali ini aku tidak hanya mendapatkan surat teguran
dan panggilan orang tua tapi aku benar-benar di keluarkan dari sekolah
tersebut. Tapi anehnya adalah mama tidak memarahiku justru mendukung aksiku
“Sudahlah Farhan! Masih banyak sekolah yang mau menampungmu.”
begitu kata mama saat aku dikeluarkan drai sekolah.
***
Lama-kelamaan aku tidak bisa mendengarkan suara apa-apa. Aku mulai
risih dan khawatir. Akankah aku tuli, lantas bagaimana aku bisa mendengarkan
suara petasan lagi. Akupun mengadu kepada mama. Mama hanya menjawab
“Kamu tuli seperti ayahmu, dari dulu kau seperti ayahmu.”
Aku agak heran dengan apa yang dimaksud mama. Aku tidak mengerti
apa yang mama bicarakan saat itu.
Keesokan harinya mama mengajakku menaiki balon udara. Tetapi karena
beban muatanya berlebihan maka aku memilih tidak ikut naik balon udara
tersebut. Memang unik liburan kala itu. Yang mana berbagai suara keras ada di
sana mulai suara petasan kembang api, suara letusan bola hingga balon udara
yang besar.
Mama melambaikan tangannya padaku. Lalu entah kenapa ada suara
ledakan maha dahsyat dari arah mama. Aku tidak terlalu mendengarkan. Apakah
selama ini aku benar-benar tuli. Aku tidak mendegarkan suara apa-apa. Akupun
teringat pesan mama ketika aku masih kecil
“Ayahmu itu seorang tukang balon juga tukang petasan. Tapi dia tuli.”
Aku masih bertanya-tanya kenapa mama dan ayah suka dengan suara
keras hingga anaknya harus seperti mereka. Mama aku tidak bisa mendengarkan suaramu.
Mama dengarlah suara hatiku. Semua hilang dengan ledakan balon udara yang mama
naiki kala itu.
Pemalang, 10 Juli 2013
M Musa al
Hasyim
Mahasiswa
semester 1 Hubungan Internasional FISIP UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
Diterbitkan di Tabloid LPM Institut UIN
Tidak ada komentar:
Posting Komentar