Sabtu, 18 Januari 2014

Cerpen dari Kisah Nyata "Yusida"



YUSIDA*
(Sebuah Kisah Nyata dari penulis Saat  SD dan SMP)
       Waktu itu engkau duduk disebelah ku, engkau bercanda dan bergurau . Aku mengharapkan kalau aku adalah pengantin putra dan engkau adalah pengantin putri, namun engkau hanya bercanda dan tak pernah berkata serius. Tentunya hal ini membuatku ingin segera pulang dari sekolahan ini.
       Setelah aku pulang kerumah , ku temukan hal yang aneh, tiba-tiba saja aku merindukan engkau. Begitu juga dengan engkau yang sama seperti ku, engkau malah menghubungiku lebih dahulu sebelum aku menghubungimu, engkau berbicara panjang lebar . Hal yang ku ingat waktu itu adalah engkau berkata”I miss you”. Selanjutnya engkau menutup telepon . Suara menghilang, aku mulai rindu kepada mu kembali.
      Pagi harinya aku berangkat lagi ke sekolah . Engkau ternyata sudah menungguku di bangku ku paling depan. Engkau melambai-lambaikan tangan mengundangku.
      Engkau mengajakku bercanda seperti biasanya namun wajahmu berubah merona. Engkau terlihat lebih serius , dan sekarang aku telah menemukan sikap serius waktu itu juga.
Engkau mengungkapkan semua rahasia pribadimu……
      Pertama engkau mengatakan kalau kakakmu terkena guna-guna dari mantan pacarnya lalu engkau meminta ku sebuah air do’a . Engkau tahu kalau ayahku adalah seorang ulama hingga aku bejanji akan memberimu air do’a yang pastinya sangat manjur.
      Kedua engkau mengatakan kalau ayahmu bercerai dengan ibumu , dan sekarang engkau tinggal bersama ibumu, engkau pun menangis saat itu juga.
      Kemudian engkau bercerita ke masalah inti . Kata engkau , model adalah  sebuah pekerjaan   buntu. Aku memang tahu kalau engkau adalah seorang model belia namun aku tak tahu  juga kalau ternyata engkau memilih model karena paksaan ibumu yang tak mampu membiayai kehidupan nya kecuali darimu, dan engkau berkata juga kalau engkau adalah tulang punggung keluarga. Maka dari itu engkau mengatakan kalau hidup sebagai seorang model sangat menyiksa diri , engkau pun tak punya teman bermain dirumah gara-gara jadwal pemotretan yang sangat padat dan pastinya prestasi di sekolah mu menurun . Kata engkau  , engkau pernah  tidak naik kelas gara-gara engkau adalah seorang model. Padahal jika aku pergi kerumahmu maka yang kulihat adalah piala yang menghiasi seluruh badan almari didepan ruang tamu, engkau mengatakan pula kalau piala itu hanya benda mati dan hal itu bukanlah hal yang luar biasa namun hanya sebuah pajangan yang katamu tak ada artinya, yang engkau inginkan adalah amalan do’a supaya nilaimu di sekolah membaik dan bisa naik ke kelas enam. Aku hanya memberimu sebuah amalan yang ringkas , jika orang membacanya maka akan mendapatkan nilai yang sangat memuaskan, seperti aku yang waktu kelas empat membacanya dan aku pun mendapatkan nilai yang sangat sempurna karena amalan do’a tersebut. Dan engkau memintaku memberitahu kan amalan  do’a tersebut sebelum orang lain tahu. Padahal amalan do’a itu hanya berbunyi ”Allahumma sholi ala sayyidina Muhammad” amalan do’a itu dibaca ketika hendak mengerjakan soal ujian. Dan kebetulan besok adalah hal yang paling tepat untuk membuktikan nya.
      Engkau pun memegang tangan ku dan hanya mengucapkan terimakasih padaku karena telah memberimu  amalan do’a . Lalu engkau meningalkan kelas kecilku.
      Di rumah aku terus membayangkan wajahmu yang semakin hari semakin manis dan sangat sejuk, setiap malam yang sepi hanya engkau yang mampu mengobati rasa jenuh ku. Malam itu pun sama .
      Pagi hari  jauh berbeda karena hanya di pagi hari lah aku melihatmu secara langsung didepan mata bahkan sangat dekat sekali. Seminggu setelah  engkau memintaku amalan do’a itu kulihat wajahmu berubah sangat jauh. Wajah yang dahulu aku temukan suka bercanda berubah menjadi wajah yang sangat sinis dan serius. Jika aku menyapamu maka engkau hanya acuh tak acuh dan lebih parahnya engkau tak mau bercanda lagi dengan ku.
      Sepulang sekolah aku mengajakmu melihat bintang yang terang, bintang Scorpio yang aku sukai akan engkau lihat bersamaku di malam minggu, namun engkau masih menunjukkan sikap yang sinis.
      Aku sangat heran akan perubahan yang engkau curahkan kepadaku, ada apa  gerangan. Hingga akupun menyelidikinya , setelah aku selidiki ternyata engkau sinis karena sebuah amalan do’a yang pernah aku berikan kepadamu, amalan do’a itu bukannya memberikan nilai yang sempurna malahan memberimu nilai merah, kata guru mata bidang menyebutkan kalau nilaimu tak lebih dari angka lima. Apakah engkau hanya membaca amalan do’a tersebut tanpa disertai sebuah usaha keras dan belajar. Akupun berusaha meminta maaf atas sikapku yang mungkin membuatmu  keberatan namun engkau hanya diam. Aku bertekad akan melupakan mu selama-lamanya jika waktu itu engkau masih saja sinis kepadaku, karena engkau tahu sendiri  kalau dalam waktu dekat ini aku sedang sibuk dengan belajar untuk menghadapi ujian nasional yang akan di selenggarakan pemerintah .
      Jika engkau sinis tentunya aku tahu namun jika engkau tak mau berbicara kepada ku itu adalah hal yang sangat menyakitkan .
      Hari selanjutnya aku benar-benar sangat binggung akan sikapmu, padahal hari-hari itu adalah hari-hari terakhir ku di sekolahan , aku berniat  akan melanjutkan sekolah lanjut pertama di luar kota dan sangat jauh dari  engkau .  Berkali-kali aku menjelaskan kalau penyesalan akan datang terakhiran. Aku meminta mu untuk kembali ceria di hari terakhir ku di sekolah.
      Waktu itu aku masih ingat ketika engkau mengajakku ke perpustakaan sendirian, engkau memberiku cokelat dan sebuah kata maaf dan aku pun menerima nya . Serasa hal terakhir yang sangat mengembirakan yang pernah aku alami .
Padahal aku tahu kalau waktu itu baju sekolah ku dan engkau masih berwarna merah dan aku  sudah berani mengatakan kalau aku mencintai mu. Saat itu  Kau hendak naik ke kelas enam dan aku hendak lulus dari sekolahan itu.
      Keesokan harinya aku benar-benar telah berpisah dengan mu.  Engkau tahu kalau aku sangat jauh . Dan mungkin kita tak akan pernah bertemu lagi . Itu lah kata yang aku ucapkan di senja  hari seusai acara perpisahan sekolah.
      Dan benar apa kataku, aku benar-benar berpisah dengan mu, aku telah pindah ke sekolahan ditingkat pertama, sekolah lanjut pertama yang bagiku akan  aku lalui tanpa kehadiran seorang yang dulu pernah singgah di dalam hati ku.
       Benar apa yang aku katakan , aku benar-benar melupakan mu bahkan aku sudah berani untuk mencari pengantimu tetapi tak secantik dirimu, dia sangat pendek darimu namun hanya dia yang pada hari-hari itu akan mengisi hatiku.
       Selain dirimu aku tak punya pengobat hati jika aku merasa kesepian. Malam itu aku benar-benar sendirian tanpa engkau. Namun sekali lagi kalau aku sudah melupakanmu.
      Ibuku menyuruhku kembali kerumah hingga aku pun kembali kerumahku  yang dulu, disana adikku menyambutku dengan hangat. Dia berkali-kali mengatakan kalau engkau dirawat dirumah sakit di Pekalongan, dan rumah sakit itu sangatlah dekat dengan rumahku waktu itu. Namun berkali-kali juga aku menolaknya bahkan aku sudah berani berkata kalau masa lalu adalah masa lalu biarlah semuanya berlalu , toh aku masih punya masa depan.
      Hari selanjutnya adikku mengabariku kalau engkau terus saja memanggilku setiap hari di dalam kamar sebuah rumah sakit. Namun aku bukanlah aku yang dulu.  Aku adalah aku yang sangat sibuk dengan tugas seorang ketua OSIS di sekolahan baruku.
      Aku pernah mengingatmu , saat itu aku memberimu foto yang sangat jelek. Dan engkau pernah berjanji suatu saat nanti giliran engkau yang memberiku foto. Mungkin itulah sebabnya engkau terus saja memanggilku di rumah sakit, namun aku tetap saja acuh tak acuh bagaikan saat engkau menerima nilai merah karena sebuah amalan doa dari ku.
      Hari berikutnya adikku mengabariku kalau engkau pindah ke rumah sakit yang lebih jauh, yah engkau dirawat dirumah sakit di luar kota. Aku sangat malas untuk pergi kesana. Bahkan rasa malas ini tak kan menyulutkan niat ku untuk mengenangmu.
      Adikku terus membujukku agar aku menjengukmu , adikku berkata kalau engkau terkena penyakit kanker hati yang sudah sangat parah. Separahnya engkau menderita sebuah penyakit tetap saja engkau adalah masa lalu ku.
      Malam tadi aku tidur kelelahan karena seharian menata kamar lama ku . Tetapi tiba-tiba saja adikku membangunkan ku, aku pun bangun tapi seraya memukulnya dengan bantal kecil. Aku mengusirnya dari pandangan ku. Adikku tetap saja membangunkanku namun aku tetap saja menolak untuk bangun.
      Pagi harinya adikku benar-benar berkata serius , dia mengatakan kalau engkau sudah tiada untuk selama-lamanya, aku tak begitu mempercayainya. Bahkan aku mentertawakan ucapan adikku. Setelah lamanya aku tertawa tiba-tiba saja adikku menangis tersedu-sedu , ia sempat mengutukku karena kelalaian ku dan kesombonganku, mulailah aku percaya apa yang adikku katakan mengenai dirimu.
      Selanjutnya aku tak berani tertawa lagi , aku menangis, aku sudah tak gengsi lagi sebagai lelaki yang lemah, aku menyerah pada sebuah takdir, aku berlari kencang ke kamar dan menguncinya. Lalu aku menangis sepuas-puasnya . Sepertinya perlahan-lahan aku mulai mengingat mu , lembaran –lembaran waktu dulu mulai membentuk dalam otakku, aku mulai merindukan sosok yang setiap  harinya bercanda kepadaku namun apa daya aku bukanlah tuhan aku hanya manusia biasa yang setiap harinya hanya bisa menyesal .
      Aku benar-benar tak kuasa untuk menangis.  Berkali-kali aku menyobek seluruh kertas yang ada didalam kamar, aku pun teringat akan sebuah lagu yang di nyanyikan oleh peterpan.
“dimalam yang sesunyi ini aku sendiri tiada yang menemani ,…………..mengapa terjadi kepada diriku aku tak percaya kau telah tiada harus kah ku pergi tinggalkan dunia agar aku dapat berjumpa dengan mu……..”
       Sekali lagi ini adalah upaya ku untuk tetap terus menebus semua kesalahanku, ternyata masa lalu adalah masa depan , maaf kan aku yusida . Ucapku didepan pusara hangat mu.
Pemalang ,22 juni 2011
*Musa Hasyim ,Siswa Mass Aliyah Tebuireng Jombang –jln Irian Jaya Po Box 10 PonPes Tebuireng Jombang Jawa Timur
DIterbitkan di Majalah Kaki Langit Horison

Tidak ada komentar:

Posting Komentar